Antara Mimpi Dengan Istikharah Dan Syariat

U�U� USO?O?O�O� O�O�USO� O�U�U�U�O�U� O?U�O? O�U�O�O?O?O�O�O�O�OY U?U�U� USO�O?O? O�U?U� O?O�O?US U?US O�U�O�O�USO�OY

Pertanyaan :
Apakah disyaratkan harus melihat mimpi setelah istikharah ? Dan apakah mimpi bisa dijadikan pedoman dalam hukum syariat ?

Jawaban :

Hukum-hukum fikih tidaklah dibangun berdasarkan mimpi, dan mimpi dapat menjadi celah besar bagi syaithan yang kerap kali mempermainkan seseorang di dalam mimpinya itu. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : ( ” Mimpi itu ada tiga macam : dari Allah, dari syaithan dan bisikan hati “. ).

Dan setiap mimpi bisa saja syaithan ikut andil di dalamnya kecuali bentuk/rupa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sebab beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

( ” Barangsiapa melihatku di dalam mimpi maka sungguh dia benar-benar melihatku, karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku/menjelma seperti diriku “. )

dan perhatikan sabda beliau di redaksi pertama hadis tersebut :

( ” Barangsiapa melihatku ” )

dan redaksi akhirnya :

( ” Karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku “. ).

Terkadang engkau melihat bentuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan mendengar suara syaithan.

Sebab yang terjaga ( dari Nabi ) adalah bentuk ( rupa ), yaitu bentuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bukan pada saat mendengar yaitu mendengar suara beliau Shallallahu Alaihi Wasallam. Karena sebagian manusia berkata : ” Aku telah melihat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan beliau berkata kepadaku begini dan begitu “. Sedangkan yang dia ( Nabi yang dilihat di mimpi tersebut ) katakan tidak ada wujudnya di dalam agama ( bukan syariat ), sehingga mimpi yang dialami benar adanya akan tetapi suara yang didengar berasal dari syaithan.

Namun seandainya bentuk yang engkau lihat bukanlah gambaran rupa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, tetapi sesuatu yang digambarkan/direfleksikan pada dirimu bahwasanya itu seakan -akan adalah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Maka ini adalah syaithan, sebab dia tidak dapat menjelma menyerupai bentuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang sebenarnya,

Adapun bentuk lain yang diserupai oleh syaithan lalu dimunculkan dalam dirimu bahwasanya itu adalah Nabi, maka ini mungkin saja terjadi, bahkan mungkin bisa pula syaithan menjelma menjadi bentuk lain di hadapan seseorang dalam mimpinya dan syaithan memunculkan sesuatu ke dalam hati orang tersebut bahwa dia adalah Allah. Sebab sebagaimana di alam nyata ada orang yang berkata bahwa dia adalah Allah seperti Dajjal, maka tidak jauh berbeda di alam mimpi, dimana datang salah satu dari kumpulan syaithan sambil berkata kepada orang yang mimpi : ” Aku adalah Allah “. Kemudian dia mengira – jika dia termasuk orang yang pandir – bahwasanya yang dia lihat adalah Allah, sedangkan Allah Azza Wa Jalla berbeda dari apa yang digambarkan dan khayalkan dalam benak serta yang dilihat dalam mimpi seseorang :

( ” Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat “. )

Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling benar ucapannya, barangsiapa benar ucapannya maka mimpinya pun benar dan dia akan melihatnya di alam nyata serta terlihat di alam nyata apa yang terlihat di alam mimpi. Ini adalah tanda kebaikan, dan ini adalah keadaan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam di awal kenabian. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ( ” Mimpi -seorang mukmin – adalah 1 bagian dari 46 tanda kenabian “. )

Dan mimpi tidak dijadikan hukum syariat namun hanyalah sebagai penguat saja. Lalu tidak ada hubungan antara shalat istikharah dengan mimpi, sehingga tidak disyaratkan bagi setiap orang yang melakukan istikharah diharuskan melihat mimpi. Namun orang yang beristikharah kemudian dia tidur dan melihat sesuatu yang menggembirakannya maka ini adalah tanda baik serta tanda lapangnya dada akan tetapi jangan engkau menetapkan keharusan antara istikharah dan mimpi.

Istikharah dilakukan saat engkau melihat sesuatu yang memiliki maslahat dalam sebuah urusan, sebab di dalam hadis disebutkan :

( ” Jika salah seorang diantara kalian bertekad dalam suatu urusan …. ” )

sedangkan seorang insan tidaklah bertekad dalam suatu urusan kecuali jika ia memandang ada maslahat di dalamnya. Dan istikharah dilakukan pada urusan-urusan dunia yang hukumnya boleh bukan urusan-urusan akhirat, misalnya dia istikharah untuk berpuasa atau tidak kemudian bersilaturrahim atau tidak. Dan juga istikharah bukan pada perkara haram..

Begitu juga istikharah dilakukan pada urusan-urusan yang dia mampu lakukan. Maka dia tidak perlu istikharah untuk menikah dengan wanita tertentu padahal dia tidak mampu untuk menikah dengannya.

Seseorang beristikharah setelah dia hampir melakukan apa yang diniatkan, dan semua pengantar-pengantar tadi memberikan kewenangan kepadanya untuk berbuat setelah itu dia istikharah dan melanjutkan rencananya serta tidak usah bimbang. Maka apabila urusannya itu dipermudah berarti ini termasuk keberkahan istikharah namun apabila urusannya tidak dipermudah bahkan dipalingkan darinya berarti ini pun termasuk keberkahan istikharah.

Adapun khurafat/tahayul yang bersarang di pikiran-pikiran manusia bahwasanya orang yang telah beristikharah selama belum melihat mimpi berarti tidak sah iktikharahnya maka ini adalah sesuatu yang Allah tidak menurunkan suatu dalilpun tentangnya. Justru yang kuat menurutku adalah bahwasanya tidak disyariatkan mengulang istikharah pada satu urusan.

Sehingga tidak perlu istikharah terhadap satu perkara, lebih dari satu kali. Sedangkan doa di dalam shalat istikharah dilakukan setelah salam berdasarkan pendapat yang kuat, Wallahu Alam.

Sumber Fatwa :

http://meshhoor.com/fatawa/fatwa-179/

Related posts

Leave a Comment