BOHONG DALAM MIMPI

Sumber Fatwa : O?O�O� U?O�U� U?US U�O� O�U�U� U�U� O?O�U�U�U� U?U�U� O?O�U� O?O�U�O�O� O?U? O?O?O�O� U?U�U� USO�U?O? O?U� O?U�O�U� O?U�U� O�U�U�O�O?OY

Pertanyaan :
Apabila dalam menceritakan mimpi yang belum pernah aku alami dan lihat dalam mimpiku, ada perbaikan/perubahan dan pelajaran, apakah boleh aku menceritakan mimpi tersebut kepada manusia ?

Jawaban :
Ini tidak boleh, sebab a�? tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara a�? dan ini adalah bentuk kebohongan sedangkan kebohongan hukumnya haram, termasuk dosa besar.

Sebagaimana kebohongan terdapat pada ucapan, maka terdapat pula pada mimpi. Sungguh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : ( a�? Sesungguhnya di antara kebohongan terbesar adalah seseorang mengaku kedua matanya melihat sesuatu dalam mimpi, padahal dia tidak bermimpi a�? ). Maka di antara kebohongan terbesar adalah seseorang berbohong dalam mimpi.
Dan disebutkan pria dalam hadis tersebut karena para pria adalah pusat pembicaraan ( pelaku yang dituju dalam sebuah percakapan ), sedangkan setiap khithab/pusat percakapan yang ditujukan untuk para pria maka itu mencakup para wanita dan mereka ( wanita ) tidak keluar dari ruang lingkup percakapan ini kecuali dengan adanya indikasi. Sebaliknya setiap khithab yang ditujukan untuk para wanita maka itu khusus untuk mereka dan para pria tidak masuk di dalamnya kecuali dengan adanya sebuah indikasi.

Demikian pula tidak boleh bagi seorang pria berbohong kepada istrinya dalam hal mimpi. Sikap berbohong ( yang boleh ) kepada istri adalah pada perkara yang tidak menghilangkan haknya, namun dibolehkan pada hal berkaitan dengan perasaan dan yang semisalnya.

Sumber Fatwa :

http://meshhoor.com/fatawa/fatwa-36-2/

http://meshhoor.com/fatawa/fatwa-36-2/

Related posts

Leave a Comment