SUAMIKU MENGHINA AGAMA

Suami Menghina Agama - Lajnah Amal Shaleh

*O�U�O?O�O�U� O�U�O�O�U�O� : O?O�O? O?U�U?U� O?U?O�US U�O?O?U�U� O?O?O�O? O�U�O?O�O�U� U?U?U� U?O?O�O� USO?O�U?U� U?USO?U?O? O? U?O�U�O?U� U�O?O?U�O� O?U�U� O?O�O? O�U�O?O�O�U� U?O�U�O?O�O�USU�O� U?U�U?U� O�U�O?U?O?O? U�U� U�O�O� O?U�U� USO?O? O�U�U�U� U?O�U�O?USU� .*

O�U�O?USO� :
O?O?U?O� O?O�U�U�U�
O?O?U?O� O?O�U�U�U�
O?O?U?O� O?O�U�U�U� O�U�U�U�

O�U�U�U� USU�U?U� : (U?UZO?U?U�U� U�UZU?UZO�U?U?O� O?UZUSU�U�UZO�U�UZU�U?U�U� U�U?U�U� O?UZO?U�O?U? O?UZU�U�O?U?U�U?U�U� U?UZO�UZO?UZU�U?U?O� U?U?US O?U?USU�U?U?U?U�U� U?UZU�UZO�O?U?U�U?U?O� O?UZO�U?U�U�UZO�UZ O�U�U�U?U?U?U�O�U? U� O?U?U�U�UZU�U?U�U� U�UZO� O?UZUSU�U�UZO�U�UZ U�UZU�U?U�U� U�UZO?UZU�U�UZU�U?U�U� USUZU�U�O?UZU�U?U?U�UZ) [O?U?O�O� O�U�O?U?O?O� 12]

O�O?O? O�U�U�U� O?U�U� O�U�O�O?U� U?US O�U�O?USU� O?U� O�O?U� O�U�O�O�O?U� O?U�O�U�O� U�U� O?O�U�O� O�U�U?U?O� .

*O?U?U�U�O� O�U�O?O�O�U� : U?U�U?U�U� USO?O? O�U�U�U� U?O�U�O?USU� O?U�O?U�O� USU�O?O?O� U�U� O?U�O� U�O� U?O?U�O?U�O� O?O�U?O�U� U?O?U�O�O�U� U?US U?U� U�O�O� USO?O?O?U?O� U?U�U?U�U� USO?U?O? U?O�U�O?U�O� U�O?U?O�O� O�O?U� U�O�O�U?U�O� U�O�O�US U�U� O?O�U�USO? O�U�U?O?O�O�U� O�O?U� O?O�O?O� O�U�O�U� O?U�O?U�O� O?O?O?O? U�O?U� O�U�U�O�O� O?O?US O?O?U�U?O? USU�U?U� U�O� O?O?O?O�USU�US O?O�U�O�O?USO� O?U� O?U�U?O� O�U�O?USU� U?U?U�O�U�U� O?O�USO? U?U?O�O�O? U�O�O�O� USO�O? O?U�USOY*

*Suamiku Menghina Allah Dan Agama Lalu apa yg jadi kewajiban Diriku ?

Fatwa Syaikh Masyhur Hafizhahullahu

Pertanyaan ke – 3 :
Saudari muslimah berkata : ” Suamiku ditimpa musibah/ujian merokok, sesaat saja dia meninggalkan rokoknya namun setelah itu dia kembali lagi, dan sekarang dirinya selalu mengkonsumsi rokok akan tetapi yang lebih menyakitkan dari ini adalah dia mencaci maki Allah dan agama.

( Syaikh ) berkata : ” Aku berlindung kepada Allah, Aku berlindung kepada Allah, Aku berlindung kepada Allah, hanya kepada Allah “.

Allah berfirman : ” Dan apabila mereka merusak sumpah ( janji )nya setelah mereka berjanji, dan mereka menghina agamamu maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang Kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang ( yang tidak dapat dipegang ) janjinya, agar mereka segera berhenti “. ( At-Taubah : 12 )

Allah telah memberikan ketetapan atas penghinaan terhadap agama dengan menjadikan penghinanya sebagai salah satu pemimpin-pemimpin kekufuran.

( Kelanjutan pertanyaan ) : akan tetapi dia menghina Allah dan agama ketika merasakan sebuah persoalan yang menyusahkan dirinya dan ketika aku mengingatkannya serta menasehatinya setiap saat dia langsung beristighfar namun berikutnya dia kembali lagi, hal itu terus terulang meski aku telah berusaha untuk menasehati dirinya dengan segala cara sampai saat ini tatkala aku memberikan nasehat dengan berbagai metode penyampaian dia hanya menjawab : ” Jangan menyusahkan diriku dengan pembicaraan mengenai perkara agama dan perkataannya itu sangat keji dan kasar, lalu apa yang jadi kewajiban atas diriku ?

Jawaban :
Seandainya putriku adalah wanita ini niscaya aku akan membawanya bersamaku dan aku katakan kepada suaminya : ” Pergilah kamu ke majelis fatwa dan bawakan hasil fatwa tersebut ” ! Dan majelis fatwa – segala puji dan anugerah hanya milik Allah – akan memvonis dirinya dengan kekufuran dan murtad dari Islam serta majelis fatwa akan memintanya untuk memperbaharui keislaman.

majelis fatwa, lembaga resmi, para ulama kita, majelis-majelis fikih dan para fuqaha kita yang terdahulu serta nash-nash syariat telah menjelaskan bahwasanya orang yang menghina Allah Jalla Fi Ulaahu dan orang yang menghina agama maka dia kafir murtad ( dari islam ) dan apabila dia pergi ke majelis fatwa maka majelis fatwa akan memintanya untuk memperbarui syahadat ( keislamannya ) hal itu apabila orang tersebut memang ingin mau kembali kepada agama Islam.

Ke depan dengan cara seperti ini menjadi pelajaran untuknya dalam bersikap entah kondisinya tetap istiqamah atau jika tidak maka pilihannya adalah ” Wanita-wanita yang baik hanya untuk pria-pria yang baik dan wanita-wanita yang buruk hanya layak bagi para pria yang buruk ” . Sehingga pria yang buruk tidak mungkin ( tidak layak ) ada wanita baik berada di bawah tanggungjawabnya.

Maka wanita yang bertanya ini hanya memiliki dua pilihan, entah dia akan menjadi wanita yang buruk sepertinya dan tidak peka perasaannya, tidak ada rasa cemburu terhadap agamanya dan juga cemburu kepada Tuhannya Azza Wa Jalla atau pilihan lain adalah dia meminta cerai. Dan tidak semua tuntutan talak ( cerai ) – dari pihak istri – adalah bentuk maksiat, dalam beberapa kondisi talak bisa menjadi wajib. Oleh karena itu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda – sebagaimana ada di shahih Muslim – : ” Wanita mana saja meminta cerai tanpa alasan yang benar maka sesungguhnya dia tidak dapat mencium wanginya Surga “. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda ” Tanpa alasan yang benar ” sehingga apabila ada unsur alasan yang dibenarkan maka dibolehkan meminta talak. Dan karena inilah para ulama kita mengatakan : ” Terkadang talak hukumnya wajib, terkadang bisa sunnah dan begitu seterusnya maka tidak setiap kondisi talak lantas tertolak ( talaknya itu ).

Suatu hari aku sholat di sebuah masjid tiba-tiba ada seorang laki-laki yang memiliki keutamaan ( lelaki tua ) melihatku lantas dia berkata kepadaku : ” Demi Allah wahai anakku Aku ingin bertanya kepadamu “.

lalu aku ( Syaikh ) menjawab : ” Silahkan ” ! Seorang lelaki tua barangkali dia telah meninggal sekarang (semoga Allah merahmatinya) Dia berkata : ” Putriku datang kepadaku dan tidak ingin kembali kepada suaminya karena suaminya telah berbuat begini dan begitu maksudnya adalah pria yang buruk ( perangainya ) biasa minum khamr. Tatkala istrinya berkata kepada dirinya : ” Bertakwalah kepada Allah ” ! Justru dia malah menghina Allah, dan tidak ingin kembali lagi kepada suaminya sedangkan kebimbangan datang kepadaku dari berbagai arah dan aku ingin mengembalikan putriku kepada suaminya “.

Aku ( Syaikh ) katakan kepadanya : ” Jangan engkau kembalikan ( putrimu ) kepadanya ” !

Dia berkata : ” Wahai Syaikh anda mengatakan seperti ini ?

Aku ( Syaikh ) menjawab : ” Benar, aku mengatakan seperti ini. Karena putrimu wanita yang diberkahi, baik dan suci serta mencintai Allah dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Dia juga mengagungkan agama Allah dan suaminya yang buruk itu, ketika menikah dengannya justru dia menghina Allah lalu apa yang tersisa ?

Apakah ada kekufuran setelah menghina Allah ? orang yang mengingkari Allah tidak mengakui Allah dan sudah selesai urusan. Adapun memperolok dan menghina Allah apakah ada kekufuran setelah ini ?

Kemudian aku melihat lelaki tua itu kemari beberapa waktu setelahnya dan demi Allah dia nampak menangis dan berkata : ” Aduhai seandainya saja aku mentaatimu, sungguh aku mengembalikan putriku dengan paksa ke rumahnya ( suaminya ) kemudian dia membakar diri dan anak-anaknya sampai meninggalkan dunia ini. Aduhai seandainya aku mentaatimu dan tidak mengembalikan dirinya.

Lantas dia berkata : ” Aku merasa aneh seorang Syaikh berkata kepadaku : ” Talak dia ( suami putrinya ) ” !! .

Ya, memungkinkan baginya berkata kepadamu ” Talak dia ” lalu dimana masalahnya ? Apabila Allah berfirman mengenai ini maka kebaikan ada di dalam perintah-perintah Allah dan tidak mungkin akan terwujud kemaslahatan di suatu negeri atau pada diri hamba kecuali dengan menegakkan agama Allah Azza Wa Jalla. Sehingga maslahat yang terwujud dengan menegakkan hukum syariat dan menegakkan agama Allah Azza Wa Jalla seluruhnya adalah kebaikan dan semuanya mengandung keberkahan.

Majelis Fatawa Al-Jumuah

29 Dzulhijjah 1437 H / 30 September 2016 M

Link Fatwa : /http://meshhor.com/329

Layanan Mutiara Kebaikan Dari Majelis Syaikh Masyhur Bin Hasan Ali Salman. a??a??

Related posts

Leave a Comment