PENGANTAR MALAM 166

HUKUM MENGKHUSUSKAN MALAM AKHIR TAHUN DENGAN IBADAH DAN MENGHIDUPKAN MALAMNYA

December 29, 2016 Yudi Abu Yahya
ﺣﻜﻢ ﺗﺨﺼﻴﺺ ﻟﻴﻠﺔ ﺭﺃﺱ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺑﺎﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻭﺍﻟﻘﻴﺎﻡ

ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ
ﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﺗﺨﺼﻴﺺ ﻟﻴﻠﺔ ﺭﺃﺱ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻘﻴﺎﻣﻬﺎ ﻭﺍﻟﺘﻌﺒﺪ ﻓﻴﻬﺎ؟ ﻭﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻰ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺍﻟﺴﻬﺮﺍﺕ ﺍﻟﺘﻌﺒﺪﻳﺔ ﺑﺸﻜﻞ ﺟﻤﺎﻋﻲ؟ .
Pertanyaan :
Apa hukum mengkhususkan malam akhir tahun dengan merayakan dan melaksanakan ibadah di dalamnya ? Dan apa hukum mengajak ( orang-orang ) menghidupkan malamnya ( dengan qiyamul lail ) serta tidak tidur untuk melakukan ibadah secara berjamaah ?

ﺍﻹﺟﺎﺑــﺔ
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ، ﺃﻣﺎ ﺑﻌـﺪ :
Jawaban :
Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Amma badu :

ﻓﺈﻥ ﻟﻴﻠﺔ ﺭﺃﺱ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺗﺨﺼﻴﺺ ﺑﺎﻟﻌﺒﺎﺩﺓ، ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﺤﺬﺭ ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ .
Sesungguhnya tidak ada petunjuk di dalam sunnah didalamnya mengkhususkan dengan melakukan ibadah di malam akhir tahun, dan wajib seorang muslim berhati-hati terhadap perbuatan bid’ah dalam agama.

ﻓﻘﺪ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ . ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ : ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﻋﻤﻼ ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ . ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ .
Sungguh telah bersabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam : ” Barangsiapa yang menciptakan perkara baru dalam urusan kami ini ( agama islam ini ) yang tidak ada contohnya maka amalan tersebut tertolak “, dalam riwayat lain : ” Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada contoh dari kami maka amalan tersebut tertolak “. ( Muttafaqun Alaihi ).

ﻭﻋﺮﻑ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺑﺄﻧﻬﺎ ﻛﻞ ﻋﺒﺎﺩﺓ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻬﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻊ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﻤﻘﺘﻀﻲ ﻟﻬﺎ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﻤﺎﻧﻊ ﻣﻨﻬﺎ . ﻭﻗﺪ ﻭﺭﺩ ﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺗﺨﺼﻴﺺ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺑﻌﺒﺎﺩﺓ ، ﺭﻭﻯ ﻣﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺗﺨﺼﻮﺍ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺑﻘﻴﺎﻡ ﻣﻦ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻠﻴﺎﻟﻲ .
Para ulama telah menjelaskan definisi bid’ah bahwasanya bid’ah adalah setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang amalan tersebut memiliki faktor pendorong dan tanpa ada halangan untuk melaksanakannya. Sungguh telah ada larangan mengkhususkan ibadah di malam Jumat sebagaimana riwayat imam Muslim dari hadis Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : ” Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah di antara malam-malam selainnya “.

ﻓﺈﺫﺍ ﺛﺒﺖ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺗﺨﺼﻴﺺ ﻟﻴﻠﺔ ﻋﺮﻑ ﻟﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﻀﻞ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻟﺴﻮﺍﻫﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﺎﻟﻲ، ﻓﺤﺮﻱ ﺑﻠﻴﻠﺔ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﺎ ﻣﺰﻳﺔ ﻭﻻ ﻓﻀﻞ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﻠﻴﺎﻟﻲ ﺃﻥ ﻳﻨﻬﻰ ﻋﻦ ﺗﺨﺼﻴﺼﻬﺎ ﺑﺎﻟﻌﺒﺎﺩﺓ .
Sehingga apabila telah jelas larangan mengkususkan satu malam yang ( padahal ) telah diketahui keutamaan malam tersebut dibandingkan malam selainnya, maka *LEBIH LAYAK LAGI* terhadap malam yang tidak memiliki keistimewaan dan keutamaan dibandingkan seluruh malam yang ada untuk dilarang mengkhususkannya dengan ibadah.

ﺃﺿﻒ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺍﻟﺘﻌﻠﻖ ﺑﻠﻴﺎﻟﻲ ﺭﺃﺱ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻫﻮ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻭﻗﺪ ﻧﻬﻴﻨﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﻬﻢ . ﻓﻴﻜﻮﻥ ﻣﻨﻬﻴﺎ ﻋﻨﻬﺎ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻨﺎﺣﻴﺔ .
Dikaitkan dengan hal itu bahwasanya bergantung ( mengkhususkan ) dengan malam akhir tahun merupakan adat orang-orang kafir dan sungguh kita telah dilarang untuk menyerupai mereka. Maka larangan mengkhususkan malam akhir tahun juga dilihat dari aspek ini ( larangan menyerupai orang-orang lafir yang biasa mengkhususkan malam akhir tahun -pent ).

ﻭﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﻟﻠﺴﻬﺮ ﻭﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺑﺸﻜﻞ ﺟﻤﺎﻋﻲ ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻴﻬﺎ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺪﺍﻓﻊ ﻟﻬﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻭﺗﻌﻠﻴﻤﻬﺎ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻭﺗﻌﻮﻳﺪﻫﻢ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻭﺃﻣﺎ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻣﻘﺼﻮﺩﺍ ﻟﺬﺍﺗﻪ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﻓﻴﻪ ﻓﻀﻞ ﻭﻣﺰﻳﺔ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﺈﻧﻪ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻌﻠﺔ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﺔ .
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ .
Dan ajakan untuk begadang semalam suntuk serta melakukan qiyamul lail yang dilakukan dengan jamaah tidak mengapa – InsyaAllah – jika alasannya adalah ibadah dan mendidik manusia serta membiasakan mereka untuk melaksanakan qiyamul lail.

Adapun apabila tujuannya murni untuk berkumpul dengan meyakini adanya keistimewaan dan keutamaan dibandingkan malam selainnya maka pada saat itu hukumnya tidak boleh karena alasan sebelumnya.

Sumber Fatwa :

fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=57818

Related posts

Leave a Comment