HADITS AHAD

فتاوى الشيخ / هل يعتمد على أحاديث الآحاد في العقيدة؟

Hadis Ahad Tidak Dapat Dijadikan Pedoman Dalam MAsalah Aqidah ?

Fatwa Syaikh Masyhur Hafizhahullahu

Pertanyaan :

Apakah hadis-hadis Ahad dapat dijadikan pedoman dalam masalah aqidah ?

Jawaban :
Hadis-hadis Ahad dapat dijadikan pedoman dalam masalah aqidah meskipun satu orang yang mengatakannya.Aku ingin masalah ini diketahui oleh saudara-saudaraku, agar mereka memperhatikan poin-poin di bawah ini :

1-Poin pertama : masa periwayatan telah terhenti, begitu juga masa isnad ( sanad/kumpulan perawi hadis ). Wahai kalian yg mengatakan sesungguhnya aqidah tidak diambil kecuali dari hadis mutawatir saja, maka berikanlah kepada kami satu hadis mutawatir. Sebagai contoh seandainya kita mengatakan hadis ( Barangsiapa berdusta atas namaku maka bersiap-siaplah menyiapkan tempatnya di Neraka ).

Siapa di antara kalian yang mengetahui hadis mutawatir ini datang melalui jalur mutawatir ? Tidak ada seorang pun tahu, Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “ Ini adalah hadis mutawatir “. Kita katakan : “ Kami mendengar dan kami taat, engkau adalah pemimpin ulama ahli hadis dan engkau termasuk pakar spesialis ( ilmu hadis ) serta seorang alim ulama. Kami menerima ucapanmu “.

Sehingga hadis Hadis Mutawatir sampai kepada kita dengan cara Ahad/perorangan, dengan begitu perkaranya kembali kepada hadis Ahad. Sehingga apa pendapat kalian – Wahai orang-orang yang mengatakan sesungguhnya akidah tidak diambil kecuali dari hadits Mutawatir – mengenai hadis Mutawatir yang belum sampai kepada kita kecuali dengan perantara Ahad ( perawi ahad ) ? maka hendaknya kalian menolak dan tidak menerimanya .

Poin yang kedua : ucapan kalian : sesungguhnya akidah tidak diambil kecuali dengan Hadis Mutawatir, bukankah ucapan ini juga termasuk aqidah ? Apakah ( ucapan ) ini juga didukung oleh dalil yang tegas dari Alquran atau dari Hadits mutawatir sehingga kami mengambil pendapat itu dari kalian ? Maka kami ingin memperlakukan ucapan kalian ini dengan kaidah kalian, selama kalian tidak mendatangkan dalil maka seruan kalian itu terbantahkan, terkubur dan terbenam di dalam lubang lahatnya .karena sesungguhnya pokok aqidah ini ( pendapat ini ) hanyalah lahir dari sebuah dugaan semata yang diambil dari sebuah pandangan dan kesimpulan, sehingga kalian menetapkan sesuatu dalam hal akidah dengan asas zhan ( dugaan/prasangka).

Poin yang ketiga : Seandainya kami katakan – menyetujui kalian – : “ Anggaplah ucapan kalian benar ‘. Maka tunjukkan kepada kami satu kitab saja, yang di dalamnya terdapat pemisahan dalam masalah aqidah, antara sesuatu yang ditetapkan dengan cara mutawatir dan dengan cara hadis Ahad, maka aku akan sepakat dengan kalian,akan tetapi tunjukkan kepadaku satu kitab dan ajarkan aqidahku, tolong tunjukkan satu kitab yang telah ditulis oleh satu imam islam yang diakui dari pertama kali munculnya buah karya tulis sampai zaman ini, sehingga aku mengetahui aqidahku ,akan tetapi ,kita tidak pernah dapatkan satu kitabpun dalam masalah ini. Kalau seandainya ucapan mereka ( yang mengatakan aqidah tidak diambil dari hadis Ahad ) benar, maka konsekuensinya adalah aqidah umat ( islam) ini berada di dalam kebingungan dan kebimbangan.

Padahal termasuk perkara yang kita ketahui adalah bahwa akan senantiasa muncul golongan yang berpegang teguh kepada agama sampai hari Kiamat ( dan ini adalah hadis mutawatir ), kalau begitu tetap ada orang yang tegak dengan hujjah karena Allah di muka Bumi ini dan aqidah mereka benar dan selamat, sehingga dengan demikian ucapan kalian lemah dengan indikasi dan hasilnya. kemudian sikapku untuk menyatakan bahwa kalian telah melakukan kesalahan dalam hal ini, lebih kami sukai dari pada menuduh umat terhadap aqidah mereka dan menyesatkan para ulama kita Rahimahumullahu Ta’ala.

Kemudian kita tidak mengetahui aqidah kita yang di dalamnya terdapat satu hadis Ahad, lalu mereka mengatakan bahwa aqidah tidak diambil dari hadis Ahad dan yang dimaksud mereka dengan Ahad adalah lawan dari hadis “ Mutawatir “ , bukan hadis “ Masyhur ( hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih pada setiap tingkatan sanadnya tapi tidak mencapai derajat mutawatir) atau Mustafidh ( hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih pada setiap tingkatan sanadnya – seperti hadis masyhur – namun jumlah perawinya harus sama dalam setiap tingkatan ) dan mereka mengulangi ucapan yang tidak mereka pahami dan ketahui.

Suatu hari beberapa pemuda datang menemuiku mereka ingin mengajakku berdiskusi mengenai hadis Ahad, dan aku paham mereka mengulangi ucapan yang mereka sendiri tidak memahaminya .Adapun perkataan terperinci dalam masalah ini dalam pandangan ahli hadis maka mereka mengetahuinya di tengah proses takhrij ( menyimpulkan derajat hadis ) dan thariq ( memaparkan sanad hadis ) yang dihasilkan.

Lalu aku pun berkata kepada mereka : “ Kalian berbicara terlebih dahulu dengan dalil kemudian aku akan menanggapinya atau aku yang terlebih dahulu memulai dan kalian menanggapinya setelah itu “.

Mereka ( beberapa pemuda tersebut ) berkata : “ Anda mulai terlebih dahulu !”

Aku pun mulai berkata : “ Hadis Ahad adalah salah satu bagian dari sunnah, dan telah tegas dalil-dalil dari Al-KItab ( Al-Quran ) dan As-Sunnah ( Al-Hadis ) akan sahnya berhujjah dengan As-Sunnah. Sehingga barangsiapa yang mengeluarkan satu bagian dari kumpulan bagian ini maka dengan keahlian yang dimiliki hendaknya dia mengeluarkan bagian ini dengan dalil “.

Mereka berkata : “ Hadis Ahad adalah satu bagian dari satu dan menghasilkan faedah dugaan semata “.

Aku berkata : “ Hadis Ahad adalah satu bagian dari satu, apakah karena hal ini kalian tidak mau menerimanya ? Mereka menjawab : Ya, aku katakan kepada mereka : Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berjalan bersama Abu Hurairah tidak ada orang ketiga di antara mereka kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan satu hadis kepada Abu Hurairah, apakah Abu Hurairah menerima atau sebaliknya dia tidak menerima ? Maka ini adalah satu bagian dari satu, dan ini adalah agama kita satu berasal dari satu kemudian dari satu berikutnya. Yaitu Nabi menerima dari JIbril dan Jibril menerima dari Tuhan kita Azza Wa Jalla.

Mereka terdiam, lalu ada satu orang berkata : Aku tidak menerimanya, aku katakan kepadanya : ini kenifakan dan engkau ( dikhawatirkan ) termasuk seorang munafik. Apakah engkau menginginkan dari Abu Hurairah agar dia mendengar dari 70 Muhammad ? Demikiankah sehingga menjadi mutawatir ? Pada hakikatnya mereka tidak memahami apa yang mereka katakan, itulah pembeda dalam perkara ini berdasarkan pandangan ahli hadis. Dan ini adalah perkara penting yang selayaknya mendapatkan perhatian. Semoga Allah memberikan kita taufik kepad perkara yang Dia cintai dan ridhoi.

Link Fatwa : http://meshhoor.com/fatawa/fatwa-19-2/

Related posts

Leave a Comment