Kesyirikan di Jari-jemari Kita (1)

AWAS ADA KESYIRIKAN DIJARI JEMARI KITA (1)

 

Alhamdulillahi wash shalaatu was salaam ‘alaa rasuulillaah,

Mungkin ada yang bertanya-tanya, ko bisa kesyirikan dijari jemari kita??

Kita telaah bersama-sama melalui dalil-dalil baik dari Al Quran maupun dari Hadits a�� hadits Nabi shalallaahu ‘alaihi wasalam.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Nabi shalallhua’alaihi wasallam bersabda:

U�UZU�U� O?UZU�U�UZU�UZ O?UZU�U?USU�UZO�U� U?UZU�UZO?U� O?UZO?U�O�UZU?UZ

a�?Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirika�?

(HR. Ahmad 4: 156. Syaikh Syua��aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 492).

Menggantungkan Jimat atau memakainya merupakan salah satu wasilah mengarah perbuatn kesyirikan, sebagaimana hadits diatas.

Akhir-akhir ini, sedang naik daun dengan adanya cincin batu akik. Yang hampir terpengaruh dengan fenomena ini. Mulai dari anak-anak sekolah, sampai dengan orang dewasa sibuk dengan pembicaraan mengenai cincin batu akik. Islam adalah agama yang lengkap, maka sebagai seorang Muslim hendaknya kita lihat bagaimana agama kita ini menjelaskannya. Apakah merupakan hal yang dibolehkan, atau sebaliknya.

A. Apakah memakai cincin termasuk sunnah Nabi??

Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al a�?Utsaimin rahimahullah bahwa memakai cincin bukanlah suatu sunnah yang ditekankan, artinya bukan sunnah yang dianjurkan bagi setiap orang. Memakai cincin tersebut hanyalah diperuntukkan bagi orang yang butuh saja. Karena Rasul shallallahu a�?alaihi wa sallam saat mengetahui bahwa para raja yang hendak dikirimi surat tidak mau menerima surat kecuali bila disertai stempel, akhirnya beliau membuat cincin agar bisa digunakan untuk memberi stempel pada surat-surat yang beliau kirim kepada mereka.

Oleh karena itu, siapa yang membutuhkan cincin, seperti pemimpin, hakim atau yang lainnya, maka menggunakan cincin dalam hal ini termasuk mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam. Namun siapa yang tidak membutuhkan cincin, maka memakai cincin bagi dirinya bukan termasuk sunnah, hanya sebatas memakai yang mubah saja. Demikian keterangan Syaikh Ibnu a�?Utsaimin dalam Fatawa Nur a�?alad Darb.

Kesimpulannya, memakai cincin itu boleh dan sekedar mubah saja. Bukan termasuk tuntunan setiap orang mesti memakai cincin. Wallahu aa��lam.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

A�http://www.sahab.net/forums/?showtopic=107620

Dari penjelasan beliau, bahwa selama tidak dibutuhkan, ada hajat kepadanya, maka tidak disunnahkan untuk memakainya.

B. Jika Menggantungkan hati kepada Cincin

Sebagian orang yang memakai cincin, tidak hanya sekedar hobi saja, namun ada yang menggantungkan hidupnya, keselamatannya kepada sebuah cincin.

Sebagai bukti, seorang yang berangkat aktivitas bekerja, ketika dia lupa membawa dan memakainya, maka yang dia lakukan, sekalipun sudah sampai ditempat kerjanya maka dengan rela ia kembali kerumahnya, dan mengambil cincinnya. Kira-kira kenapa ia bela-belain mengmbil cincinnya?

Jawabannya, adalah ada ketergantungan hati ia kepadanya.

Dari a�?Uqbah bin a�?Amir, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

U�UZU�U� O?UZO?UZU�U�UZU�UZ O?UZU�U?USU�UZO�U� U?UZU�O�UZ O?UZO?UZU�U�UZ O�U�U�U�UZU�U? U�UZU�U? U?UZU�UZU�U� O?UZO?UZU�U�UZU�UZ U?UZO?UZO?UZO�U� U?UZU�O�UZ U?UZO?UZO?UZ O�U�U�U�UZU�U? U�UZU�U?

a�?Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk mencegah dari a�?ain, yaitu mata hasad atau iri, pen), maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminana�? (HR. Ahmad 4: 154. Syaikh Syua��aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan )

Dalam hadits a�?Abdullah bin a�?Ukaim, Nabi shallallahu a�?alaihi wa sallam bersabda,

U�UZU�U� O?UZO?UZU�U�UZU�UZ O?UZUSU�O�U�O� U?U?U?U?U�UZ O?U?U�UZUSU�U�U?

a�?Barangsiapa menggantung hati pada sesuatu, urusannya akan diserahkan padanyaa�? (HR. Tirmidzi no. 2072 dan Ahmad 4: 310. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kesimpulan dari tulisan diatas, maka hati-hati dengan yang awalnya sekedar hoby, yang kemudian terjatuh dalam kesyirikan, karena kebodohan terhadap syariat Allah.

Bersambung……..In Syaa Allah

Related posts

Leave a Comment